• Hermann Riber posted an update 3 months, 4 weeks ago

    Fenomena properti di Tanah Air seperti tak ada habisnya, bisnis yang menjanjikan ini semakin lama, kian banyak peminatnya.
    onlist.id skor tanah yang semakin meningkat seiring dengan berjalannya waktu. Kemudian permintaan akan tempat tinggal malahan mengalami kenaikan, tak heran pelaku – pelaku bisnis mulai banyak melirik sektor properti beberapa bisnis yang stabil dan menguntungkan. Dikatakan stabil sebab nilainya tidak berubah mengalami penurunan padahal nilai mata uang yang sering kali fluktuatif, sehingga keterjaminan bisnis yang stabil membikin properti menjadi pilihan bagi investor baik dalam negeri ataupun dari luar negeri.

    Tapi, ada beberapa fakta menarik berhubungan bisnis properti ini, dimana pertumbuhan yang kadang kala kencang namun juga di waktu yang lain mengalami kelambatan, tetapi bukan penurunan. Dan tulisan ini akan membahas fase pertumbuhan bisnis properti di Tanah Air yang mengalami percepatan dan kelambatan perkembangan yang mengacu pada kestabilan ekonomi dan agenda pemerintah.

    Fase permulaan dari pertumbuhan properti diawali pada tahun 2011 sampai 2013 yang mana bisa dikatakan sebagai tahun emas pertumbuhan properti. Properti tumbuh subur dan memberikan akibat keuntungan yang baik bagi pemberi modal yang bermain di dalamnya. Pertumbuhan properti bisa diperhatikan di sebagian kawasan baik itu daerah perkotaan ataupun pedesaan. Hal ini dikarenakan pendapatan per kapita Indonesia pada dikala itu cakap menembus angka 3000 USD per tahun, sehingga secara tidak segera sektor ekonomi malahan mengalami pertumbuhan yang cukup baik, merupakan sekitar 6.8%, dengan bertumbuhnya ekonomi, karenanya daya beli masyarakat pun mengalami kenaikan, tak terkecuali di bidang properti yang menjadi salah satu keperluan pokok masyarakat kita. Di sisi lain, skor rupiah masih cukup kuat di pasaran, sehingga dengan nilai yang stabil, para pelaku bisnis dapat berbisnis dengan bagus.

    Pada fase berikutnya, yakni antara 2014 sampai 2016, sektor properti cenderung sedikit lesu. Hal hal yang demikian disebabkan kebijakan pemerintah yang sedikit memberatkan masyarakat dikala itu, yaitu pemberian uang muka minimal 30 persen dari harga rumah, sehingga masyarakat cukup kesulitan memperoleh dana tetap untuk membiayai down payment dari rumah tersebut. Imbasnya pelaku usaha bisnis properti ini cukup kesulitan mendapatkan pembeli yang membutuhkan rumah dengan harga yang terjangkau. Ditambah dengan melemahnya nilai tukar rupiah kepada dollar yang mengakibatkan rupiah menempuh angka 14.000 per $ 1 mata uang Amerika Serikat.

    Fase ketiga yaitu 2017 – 2018, pertumbuhan industri properti mengalami kebangkitan, sejumlah aspek yang turut berperan ialah sebab banyak pembangunan infrastruktur di pelbagai kawasan di Tanah Air, sehingga banyak orang mulai mencari hunian yang sesuai dengan keinginan, dimana masyarakat memanfaatkan media online merupakan website untuk mencari rumah, seperti yang ditawarkan dalam laman onlist yang menyediakan rumah menurut biaya dan lokasi, sehingga memudahkan calon pembeli dalam melakukan pencarian. Dengan meningkatnya tenaga beli makan tak mengherankan bisnis ini kembali tumbuh dengan baik dan mempunyai prospek yang lebih baik di masa depannya. tulisan mengenai pertumbuhan properti di Indonesia, semoga dapat berguna.